Perusakan Hutan Jadi Sumber Penyakit Hingga Pandemi
Petugas Manggala Agni Daops Kota Jambi membawa selang saat mengupayakan pemadaman kebakaran lahan gambut di Kumpeh Ulu, Muarojambi, Jambi, Selasa (6/8/2019). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Perusakan Hutan Jadi Sumber Penyakit Hingga Pandemi

Jakarta, CNN Indonesia — Para peneliti menemukan bahwa perusakan lingkungan hutan disebut menjadi sumber penyakit hingga pandemi, termasuk infeksi virus SarS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19.
Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Joko Pamungkas menyatakan bahwa berdasarkan kajian pada jurnal yang dibuat pada 2013 sebagian besar pemicu kemunculan Emerging Infectious Diseases (EID) adalah deforestasi atau perusakan hutan.

EID merupakan penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya. Penyakit itu bisa jadi sudah ada sebelumnya namun penyebaran bisa meningkat dengan sangat cepat.

Penelitian Joko juga mengungkap bahwa perubahan penggunaan lahan meningkatkan kontak antara satwa liar dengan manusia dan juga ke ternak. Di tengah situasi itu, dia berkata terjadi limpahan patogen dari satwa liar ke manusia atau hewan ternak.

Joko menjelaskan bahwa virus yang menimbulkan penyakit pada manusia banyak ditemukan pada ordo kelelawar, primata, dan hewan pengerat.

“Terkait dengan Covid-19 yang disebabkan SARS-CoV-2 ini, satu jenis kelawar yang sudah disebutkan sebagai inang alaminya adalah Horseshoe bats atau Rhinolophus sp. Ada yang besar, ada yang kecil. Keduanya diindikasikan bisa membawa SARS-CoV,” ujar Joko saat diskusi virtual. Lebih lanjut menurutnya pemicu ekologis penyakit menular itu berkaitan dengan berkurangnya keragaman satwa liar, bertambahnya kepadatan populasi manusia, perubahan pemanfaatan hutan, dan perubahan industri pertanian.

Lahan Gambut juga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit dari hewan ke manusia. Selain hutan, peneliti lain juga menyebut bahwa daerah lahan gambut tropis merupakan sumber awal penyakit zoonosis atau penyakit yang bermula dari hewan.

Lahan gambut tropis merupakan hutan rawa yang banyak ditemukan di daerah sekitar khatulistiwa yang gambutnya sebagian besar terdiri dari materi pohon mati, bukan lumut seperti di garis lintang lainnya.

Peneliti mengatakan Lahan gambut adalah rumah bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan, termasuk orangutan dan merupakan penyerap karbon utama, area yang menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengimbangi emisi karbon dan gas rumah kaca.

Lahan gambut tropis dianggap kaya akan fauna dan flora, termasuk berbagai taksa vertebrata yang diketahui mewakili risiko zoonosis EID, seperti kelelawar, hewan pengerat, trenggiling, dan primata.

Beberapa negara iklim tropis yang memiliki lahan gambut tropis sebagian besar merupakan negara berpenghasilan rendah atau menengah.

Perburuan satwa liar, kebakaran hutan gambut, dan degradasi habitat adalah tiga hal yang sangat mempengaruhi lahan gambut. Tetapi semuanya kerap terjadi di negara-negara dengan sumber daya yang lebih sedikit.

Hal itu membuat kontak manusia-satwa liar dan perburuan daging liar di lahan gambut tropis juga memberikan potensi lebih lanjut untuk kejadian penyebaran penyakit, di mana patogen dari satu spesies berpindah ke spesies lain dari satwa liar ke manusia untuk terjadi.

“Mengelola lahan gambut tropis secara berkelanjutan penting untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 dan mengurangi kemunculan dan keparahan penyakit menular yang muncul dari zoonosis di masa depan,” ujar penulis studi dari konservasi di University of Exeter, Mark E. Harrison, seperti dikutip Popular Science.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal PeerJ, peneliti berkata sebagian besar kejadian penyakit menular baru (EID) didominasi oleh zoonosis (60,3 persen), dengan mayoritas (71,8 persen) berasal dari satwa liar, termasuk Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), Severe Acute Respiratory virus (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS), Ebola, dan Covid-19.

Keterkaitan manusia dengan hutan dianggap perlu diperhatikan, terlebih semasa pandemi Covid-19. Kedua penelitian di atas sudah menyebut bahwa hutan dapat berpengaruh besar terhadap populasi manusia.Peringatan hari hutan Indonesia juga disebut menjadi momentum bagi manusia untuk terus menjaga hutan yang berisi keanekaragaman hayati.

Sejak tahun lalu, peringatan Hari Hutan Indonesia (HHI) dirayakan setiap tanggal 7 Agustus. Tanggal itu dipilih sebagai momen refleksi disahkannya Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2019 mengenai Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Primer dan Lahan Gambut.

Hari Hutan Indonesia juga diharapkan dapat menjadi pengingat umat manusia akan manfaat yang selama ini dinikmati ketika manusia dapat hidup harmonis dengan alam, seperti air dan udara bersih, sumber pangan dan obat-obatan, akar budaya berbagai suku bangsa Indonesia, hingga fungsi hutan sebagai penyerap karbon.

Sumber : www.cnnindonesia.com

 https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210806203026-199-677572/perusakan-hutan-jadi-sumber-penyakit-hingga-pandemi.

Leave a Reply