Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang banyak menghadapi praktek kejahatan terhadap satwa-satwa liarnya.Indonesia mencatat lebih dari 80 persen satwa yang diperdagangkan secara daring atau melalui pasar burung, merupakan tangkapan dari alam liar. Hal ini dapat memicu fenomena hutan tanpa satwa, bila perburuan satwa liar terus berlangsung. Catatan lain juga menyebutkan bahwa kejahatan satwa liar secara global menempati posisi kedua setelah kejahatan narkotika. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan nilai kerugian negara akibat perdagangan satwa liar secara ilegal diperkirakan mencapai Rp. 13 Triliun per tahun

Empat tahun mengabdi, ALOBI telah melakukan pelepasliaran ratusan satwa beserta ribuan ekor burung ke habitat aslinya, dan juga sering melakukan edukasi ke sekolah serta kabupaten membuat ALOBI makin dikenal dalam masyarakat luas. "Untuk ke depan, kita tetap akan melanjutkan program pengembalian satwa ke habitatnya untuk mempertahankan populasi satwa liar di alam Babel, dan semakin menggencarkan sosialisasi dan edukasi, yang mana akan dibuka semacam sekolah untuk mengajak para pelajar atau generasi muda untuk dapat mengerti dan turut andil dalam menjaga kelestarian alam beserta faunanya," kata Ketua Alobi, Langka Sani.

Dan bukan hanya itu, Langka menambahkan pihaknya akan mengembangkan program animal rescue. Dimana nantinya mereka akan menjemput satwa-satwa yang mengundang konflik di masyarakat atau satwa yang masuk ke masyarakat. "Nanti kita akan melakukan penjemputan satwa tersebut. Kemudian kita lakukan rehab/karantina di habituasi ALOBi. Setelah itu kita kembalikan ke habitatnya. Dan program ini juga akan melayani penjemputan apabila ada satwa-satwa yang mati di jalan atau tetabrak oleh kendaraan dan akan kita jemput untuk di makam secara layak," terangnya