Nasib Ikan Cupang Endemik Bangka Belitung, Terancam Punah karena Habitat Rusak

Nasib Ikan Cupang Endemik Bangka Belitung, Terancam Punah karena Habitat Rusak

Nama ikan cupang tidak asing lagi bagi para pencinta ikan hias. Hal ini dikarenakan warna atau  corak tubuhnya yang unik, serta sifat alami pejantannya yang agresif serta gemar bertarung dengan sesama.

Spesies ini pun mendapat julukan fighter fish [ikan petarung], dan dikonteskan atau dipertarungkan di tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Terbaru, kontes ikan cupang skala internasional digelar di Kota Kediri, Jawa Timur, Juni 2021. Tercatat 2.457 ikan cupang hias yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Thailand, berlomba memperebutkan hadiah uang tunai sebesar Rp196 juta Rupiah, sebagaimana diberitakan di Merdeka.com.

Meningkatnya popularitas ikan cupang, membuat berbagai komunitas penghobi berlomba melakukan rekayasa genetik atau perkawinan silang berbagai jenis, agar menghasilkan jenis ikan cupang dengan corak warna memikat.

Dikutip dari katadata.co.id, ikan cupang “Kanchen Worachai” dengan corak warna menyerupai bendera Thailand disebut sebagai cupang termahal di dunia, dengan harga jual mencapai Rp22 juta Rupiah.

 

Wild betta schalleri, ikan cupang endemik Bangka Belitung yang berstatus Genting. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia

Namun, jika ikan cupang hias sukses di tingkat international, nasib kurang baik dialami ikan cupang alam atau spesies Wild Betta spp., terutama jenis endemik, yang menghadapi ancaman kepunahan.

Misalnya di Kepulauan Bangka Belitung. Merujuk data IUCN Red List, terdapat tiga spesies endemik ikan cupang alam menghadapi ancaman kepunahan. Ketiga spesies tersebut, yakni Wild betta chloropharynx  [Kritis], Wild betta burdigala [Kritis], dan Wild betta schalleri [Genting].

Ahmad Fahrul Syarif, peneliti dari jurusan akuakultur Universitas Bangka Belitung [UBB], mengatakan bahwa kerusakan habitat rawa menjadi ancaman terbesar dalam kelestarian spesies endemik ikan cupang alam di Bangka Belitung.

“Ancaman tersebut datang dari perluasan perkebunan sawit skala besar, serta aktivitas pertambangan yang merusak hutan atau ekosistem rawa [black water], yang menjadi habitat spesies cupang alam endemik Bangka Belitung,” katanya kepada Mongabay Indonesia, Selasa [30/11/2021].

Berdasarkan dokumen IKPLHD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2019, luas lahan pertambangan menurut bahan galian dan izin usaha pertambangan, telah mengusasi 1.007.372,66 hektar dari 1.642.400 hektar total luas Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Terdapat 25 jenis bahan galian, yang dikelola ratusan perusahaan.

Dokumen yang sama menjelaskan, pada 2017 kerusakan hutan seluas 41.769,55 hektar, yang salah satunya disebabkan penambangan. Dituliskan juga, 20.428 hektar merupakan lahan kritis, 260 hektar berkondisi sangat kritis, dan seluas 392.437 hektar agak kritis. Sekitar 503 hektar lahan [tanpa penjelasan].

Dijelaskan Ahmad Fahrul Syarif, spesies endemik ikan cupang mempunyai kerentanan untuk punah di alam lebih besar jika dibandingkan spesies ikan lokal lainnya, yang lebih adaptif terhadap perubahan habitat.

“Spesies endemik ikan cupang mempunyai habitat unik. Oleh karena itu, pengembangbiakan spesies endemik ikan cupang hingga saat ini masih sulit dilakukan, karenanya kelestarian habitatnya menjadi penting,” lanjutnya.

Kebanyakan spesies cupang alam endemik di Indonesia berstatus terancam punah karena rusaknya habitat. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia

Si petarung terancam punah

Mengapa spesies Betta sp atau sering disebut masyarakat Bangka Belitung “ikan tepalak” sebagai ikan petarung [Fighting Fish]?

Sebuah artikel yang dipublikasikan jurnal ScienceDirect berjudul Fins of Fury or Fain eant: Fluoxetine affects the aggressive behavior of fighting fish [Betta splendens] oleh Susan M. Greene dan Allen D. Szalda-Petree pada 2021, menuturkan sifat agresif ikan tepalak jantan atau cupang jantan merupakan bentuk respons teritorial. Mereka bertanggung jawab untuk membangun sarang, menarik betina, memperoleh wilayah, dan membesarkan anak.

“Perilaku agresif cupang jantan diperlukan dalam proses reproduksi, seperti untuk memperebutkan wilayah serta mengusir pejantan lain guna menarik betina,” tulis Susan M. Greene dan Allen D. Szalda-Petree.

Dijelaskan, tampilan cupang jantan yang terlalu agresif, terkadang tidak menarik bagi betina, karena jantan yang terlalu agresif dapat menimbulkan risiko signifikan [menyerang] betina, yang ukurannya jauh lebih kecil.

Oleh karena itu, jika pejantan ingin memperoleh dan mempertahankan minat betina, mereka harus menyesuaikan perilaku saat mengintimidasi saingannya tanpa menakuti betina.

“Perilaku intimidasi meliputi tampilan lateral, pembukaan insang, dan penyebaran sirip, sedangkan perilaku serangan utama adalah menggigit. Di sisi lain, pertemuan agresif ini secara langsung memengaruhi keberhasilan reproduksi jantan dan kelangsungan hidup anak mereka di masa depan,” jelas Susan M. Greene dan Allen D. Szalda-Petree.

Wild betta schalleri, spesies endemik di Bangka Belitung yang kini terancam punah di alam. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia

Terlepas dari sifat alami cupang alam yang sangat agresif dan merupakan sosok petarung ulung, berdasarkan penelitian berjudul “Karakter Morfometrik Ikan Tepalak [Wild Betta] Asal Pulau Belitung Sebagai Dasar Pengembangan Akuakultur” oleh Ahmad Fahrul Syarif dkk. pada tahun 2020, dijelaskan bahwa Indonesia merupakan daerah endemik persebaran ikan cupang alam [wild betta] terbesar di dunia. Sementera cupang [Betta spp.] tercatat 79 jenis, dan sekitar 51 jenis berada di Indonesia.

“Namun, Ikan wild betta saat ini sudah semakin sulit dijumpai di habitat alamnya, bahkan beberapa spesies ikan wild betta memiliki status konservasi Critically Endangered atau Kritis seperti Betta simplexBetta livida, dan Vulnerable atau Rentan seperti Betta pinguis dan Betta splendens. Beberapa ikan wild betta endemik di Indonesia juga sudah terancam punah, yakni Betta miniopinna,” tulis Ahmad Fahrul Syarif dkk.

Jurnal yang sama menyebutkan, kelompok ikan Betta sp. atau biasa disebut fighting fish, cupang, tempalak, tepalak, di beberapa daerah terdistribusi secara luas di Asia Tenggara, termasuk di Sumatera dan Bangka Belitung. Anggota dari kelompok ikan wild betta ini terdiri dari sekitar lebih dari 55 spesies dan dibagi menjadi beberapa grup yang terbagi menjadi 13 kelompok spesies, ditinjau dari karakter morfologinya.

Baca: Belida Lopis, Ikan Asli Indonesia yang Dinyatakan Punah

 

Kondisi sejumlah aliran sungai dan rawa di Pulau Bangka yang kini terkepung perkebunan sawit. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia

 

Makanan dan reproduksi

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Warta Iktiologi berjudul “Mengenal Cupang [Betta spp.] Ikan Hias yang Gemar Bertarung” oleh Gema Wahyu Dewantoro dari Puslit Biologi-LIPI, menyatakan, ikan cupang termasuk ikan bersifat karnivora yang memakan hampir semua binatang kecil yang hidup di air.

“Ikan cupang juga diketahui merupakan salah satu ikan predator jentik nyamuk, dan pengontrol populasinya, bahkan sebanyak 319 pupa Anopheles stephensi pada wadah yang berisi dua liter air dapat dihabiskan dalam waktu satu hari,” tulis Gema Wahyu Dewantoro dalam penelitiannya yang diterbitkan pada 2017.

Sebelum memijah, induk jantan dan betina ikan cupang akan melakukan ritual saling berkejaran. Setelah berhasil didekati, jantan akan memperlihatkan sirip-siripnya ke betina, kemudian dengan segera melipatkan dirinya ke seluruh tubuh ikan betina.

“Pada saat itulah hampir secara bersamaan betina melepas telur dan jantan mengeluarkan sperma. Kemudian telur-telur ikan yang telah dibuahi akan melayang turun dan dengan cepat disambar jantan, dikarenakan apabila telur terlambat dan sampai jatuh ke dasar dapat menyebabkan gagal menetas. Jumlah telur yang dihasilkan 700 sampai 900 butir. Selanjutnya, telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva ikan dalam jangka waktu 3 sampai 4 hari,” tulis Gema Wahyu Dewantoro.

Baca juga: Memetakan Potensi Ikan Asli Indonesia untuk Kegiatan Ekonomi

Ekosistem rawa yang masih terjaga di sekitar kawasan Sungai Upang, Pulau Bangka. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Gerakan kolektif konservasi cupang alam

Swarlanda, pendiri sekaligus pembina The Tanggokers, sebuah Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung yang fokus pada riset, edukasi, serta pelestarian ikan endemik di Bangka Belitung, mengatakan, cupang hias banyak digemari hobbies dikarenakan menampilkan corak warna beragam dan mudah di pelihara.

“Tetapi, cupang alam sebenarnya tidak kalah indah, menarik dan unik jika dibandingkan dengan cupang hias, walaupun dalam warna dan corak tubuh tidak seberagam cupang hias.”

Selain itu, cupang alam memiliki peran penting dalam sebuah rantai ekosistem, yakni sebagai pengontrol pertumbuhan serangga yang berkembang di perairan umum, seperti jentik nyamuk dan sebagainya.

“Hanya sekarang, jenis cupang alam semakin sulit dicari dikarenakan habitatnya banyak beralih fungsi dan rusak,” kata Swarlanda.

“Jadi, para breeders dan hobbies cupang hias, disarankan jangan melepaskan cupang hias atau jenis baru ke alam, karena akan menimbulkan dampak negatif serta berpotensi merusak habitat alami dari jenis-jenis ikan lokal atau endemik di habitat tersebut,” lanjutnya.

Sudah saatnya, para penghobi atau pembudidaya cupang hias peduli pada kelestarian cupang alam. Gerakan konservasi seperti melakukan restoking ikan cupang alam ke habitat alaminya, serta kampanye penyelamatan habitat rawa yang kian tergerus menjadi sangat penting.

“Gerakan konservasi ikan lokal maupun endemik harus mulai dilakukan secara kolektif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ini penting, karena hingga sekarang belum ada peraturan yang jelas terkait perlindungan jenis ikan endemik ataupun lokal, khususnya di Bangka Belitung,” paparnya.

Sumber : https://www.mongabay.co.id/2021/12/02/nasib-ikan-cupang-endemik-bangka-belitung-terancam-punah-karena-habitat-rusak/ (Diakses pada 16 December 2021)

Leave a Reply